Categories
News

Konservasi Cetak Biru Gajah Sumatera Bag7

Konservasi berbasis penanda DNA bisa pula digunakan untuk membantu penanganan kasus kejahatan hewan. Sunarto menyinggung kasus pembunuhan gajah jantan dewasa bernama Yongki di Lampung pada September 2015. Saat ini Eijkman Institute sudah memiliki spesimen DNA gajah Yongki. Maka, kata Herawati, bila ada temuan barang bukti gading gajah, peneliti bisa mencocokkan gading dengan pemiliknya. ”Informasi tersebut kemudian bisa digunakan untuk melacak dan menindak pemilik, pedagang gading, ataupun pelaku yang membunuh Yongki,” ucapnya.

Penggunaan teknik genetika molekuler untuk konservasi satwa di Indonesia baru dilakukan untuk gajah Sumatera pada bentang alam Tesso Nilo, Bukit Tigapuluh, Way Kambas, dan Bukit Barisan Selatan. Lembaga selain WWF Indonesia yang aktif menerapkan teknik ini dan bekerja sama dengan Eijkman adalah Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS). Studi Eijkman dan WCS yang dilakukan sepanjang Oktober 2010-Januari 2014 itu menggunakan penghitungan statistik mark-recapture, yakni untuk penaksiran ukuran populasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *