Categories
News

Konservasi Cetak Biru Gajah Sumatera Bag7

Konservasi berbasis penanda DNA bisa pula digunakan untuk membantu penanganan kasus kejahatan hewan. Sunarto menyinggung kasus pembunuhan gajah jantan dewasa bernama Yongki di Lampung pada September 2015. Saat ini Eijkman Institute sudah memiliki spesimen DNA gajah Yongki. Maka, kata Herawati, bila ada temuan barang bukti gading gajah, peneliti bisa mencocokkan gading dengan pemiliknya. ”Informasi tersebut kemudian bisa digunakan untuk melacak dan menindak pemilik, pedagang gading, ataupun pelaku yang membunuh Yongki,” ucapnya.

Penggunaan teknik genetika molekuler untuk konservasi satwa di Indonesia baru dilakukan untuk gajah Sumatera pada bentang alam Tesso Nilo, Bukit Tigapuluh, Way Kambas, dan Bukit Barisan Selatan. Lembaga selain WWF Indonesia yang aktif menerapkan teknik ini dan bekerja sama dengan Eijkman adalah Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS). Studi Eijkman dan WCS yang dilakukan sepanjang Oktober 2010-Januari 2014 itu menggunakan penghitungan statistik mark-recapture, yakni untuk penaksiran ukuran populasi.

Categories
Parenting

”Matematika” Untuk Si Batita

Cobalah bertanya kepada anak umur tiga tahun, berapa umurnya. Dengan bangga ia akan memberikan angka yang tepat dengan jari mereka. Ya Mama, anak umur tiga tahun sudah mulai menyadari bahwa jari-jemari yang mereka angkat berhubungan dengan angka yang punya makna sebenarnya. Jangan terkejut jika “tiga” menjadi angka favorit mereka, dan angka ini menjadi jawaban atas setiap pertanyaan “berapa” yang Mama ajukan.

Baca juga : Kerja di Jerman

Selain itu, kebanyakan anak tiga tahun sudah bisa menghitung sampai tiga dan tahu nama beberapa angka dari satu sampai sepuluh. Dia juga akan dengan cepat menunjukkan bahwa dia menerima lebih sedikit kue daripada teman mainnya. Inilah cikal bakal si kecil “belajar” matematika. LAKUKAN DALAM KESEHARIAN “Satu, dua tiga,” itu yang akan dikatakan si kecil saat menghitung boneka atau mobil-mobilan miliknya. Si batita sudah mengerti bahwa angka terakhir yang disebutkan adalah jumlah benda yang ia miliki sebenarnya.

Yang mungkin masih belum ia pahami adalah jika Mama mengubah urutan boneka tersebut, maka tentu saja jumlahnya masih sama. Coba geser mainan itu agar lebih renggang jaraknya satu sama lain, dan tanyakan berapa jumlah bonekanya. Dia mungkin terlihat bingung dan menjawab kalau bonekanya lebih dari tiga, tapi ia belum mampu menyebutkan jumlahnya. Ketika menghitung benda yang ada di depannya, batita sebenarnya tidak benar-benar menghitung. Ia hanya membuat penilaian akan jumlah berdasarkan penampilannya.

Jika satu tumpukan balok tampak lebih tinggi, mereka akan berpikir bahwa ada lebih banyak balok di tumpukan itu ketimbang di tumpukan yang lebih rendah. Mereka belum bisa menangkap gagasan bahwa, tumpukan yang lebih tinggi terdiri atas jumlah balok yang sama; baloknya saja yang ukurannya lebih besar. Hal itu dikarenakan mereka berfokus pada tampilan ketimbang konsep akan jumlah, yang membutuhkan tugas mental lebih kompleks.

Hal yang sama berlaku saat mereka menilai volume. Cobalah eksperimen berikut: Sajikan kepada si kecil segelas jus dalam gelas yang langsing dan tinggi. Berikan kepada temannya jumlah jus yang sama dalam gelas yang lebih lebar dan pendek. Tanyakan kepada kedua anak, gelas mana yang berisi lebih banyak jus. Apakah mereka menjawab gelas yang lebih tinggi? (Mungkin saja, dan bisa saja akan berujung pada pertengkaran soal siapa yang dapat lebih banyak!).

Sumber : https://ausbildung.co.id/